Sunday, January 13, 2013

The Place Where I Feel Most Like Me

I was in the middle of fixing the CPU of my "grandfather" (my paternal grandmother's elderly distant relative) when I received the news. It was a lazy afternoon in May and my meta-bored brain went haywire for a second when Bapa told me that the Consulate General of Indonesia (based in Davao City) is looking for me. I have been accepted as a cultural exchange scholar of the Ministry of Education and Culture in Indonesia for one year.

Eight months later, here I am in an internet café somewhere in South Jakarta, writing this blogpost about that much-needed break from my increasingly depressing life. It was really a pleasant surprise, to say the least. For one, I applied the previous year (2011) and not for 2012. But then again, perhaps that was how things should be.

When someone has been working for three years after university, one usually tends to forget some of the things one used to enjoy doing when one was young. For example, having fun.

Before, I would always tell myself that I should go on a trip. But as I got consumed by the responsibilities of adult life, I forgot about that childhood promise. So when the Consulate General called me about Darmasiswa, there was only one thing on my mind: I will use this chance to find myself again, to become happier and more inspired.

It was not the first time I stayed in another country. So, before I got here, I reminded myself of the lessons I learned back when I lived in Myanmar: count happiness and not suffering; celebrate the differences and similar treasure between this new place and my native country.


I also did a lot of research. I asked a friend who graduated from the program and interviewed Indonesian friends  about what to do or not do in Indonesia. They all said the same thing: expect the worst traffic jams in the world, try warung makananan, visit tourist attractions in Indonesia, and so much more.

I thought it was a pretty good preparation but it's true that nothing beats actual experience.

When I finally got here, I've experienced getting stuck in traffic for two hours on a street that could possibly be traversed on foot for a good fifteen minutes. I have singed my tongue and shed tears eating nasi gila that was actually "not too spicy". I have tried being a kenek by standing near the bus door because the kopaja was already full. All of this might come off as scary for other people but for me, it made me feel a little closer to Indonesia---by experiencing things that the ordinary Indonesian does.

For the few months that I've stayed here, I noticed that there was not much difference between the Philippines and Indonesia. For example, Pengadegan reminded me of this street in Davao named Marfori. Perhaps the only difference is that there are a lot more houses here which use brick roofs. The weather is also very similar and it was easy for me to adapt because the people I meet on the streets look like the people back home.

Despite the many similarities, there are also differences. Primarily, religion. Majority of Indonesian people are Muslims. And although I am a Muslim too, there are several different practices in Indonesia and in my country. I am also very overwhelmed with the fact that I can pray anywhere here. There are musollahs (prayer rooms) in the mall and there are mosques everywhere.

Perhaps one of the things that I am most thankful of is that I arrived in Indonesia during Ramadan. Therefore, I am able to celebrate Eid'l Fitr the Indonesian way. I was able to see Jakarta without the usual traffic jams and I experienced lebaran traditions like eating ketupat, visiting relatives, and Eid'l Fitr prayer.

Indonesia made me remember that George A. Moore quote I used to like a lot as a child: "A man travels the world over in search of what he needs and returns home to find it."

Indonesia is a country that is new, but it has also became my home. It reminds me of the things we have in the Philippines but only in another form. The Indonesian people's kindness reminds me of the friendliness of the Filipinos. The scorching weather and cold monsoons were also some of the things we had in the Philippines. Walking on the streets of Jakarta, I am aware that this is a foreign land I was treading on but somehow, I do not feel like an outsider. The feeling is comparable to that when you play on your neighbor's garden alone. It's not exactly where I should be but I am welcomed, nonetheless.

As I get used to eating spicy food, riding public transportation, and using "dong", "sih" or "kok", I feel that I have found a little piece of home in Indonesia. Although I still need a little more time to get accustomed to the traffic, the annoying ojek driver who calls out "mbak", occasional flooding, and the fact that people here often get scared when I ask a lot of questions, I think I can still live happily here.

When I return, I will bring home with me lessons. That everyone is different and we must learn to accept the fact that what might be right for one might not necessarily so for another.  Therefore, we should not think of people as one collective entity but instead open our hearts for each of them. Just as there are Indonesians who do not keep promises and there are other Indonesians who cherish them dearly, there are also Filipinos who are like that. Personalities vary per person. For this, we should be open-minded and unafraid to learn.

If we wish to enjoy something, we have to open all our senses. Observe the scenery, listen to the music, smell the air, taste the food, feel the warmth of the culture. But then again, even with all these senses open, if our mind is closed, everything would be useless.

It is only when we open our minds that we can truly enjoy the beauty this world has to offer. 

---

Pada saat bulan Mei ketika saya mendapatkan berita bahwa saya akan pergi ke Indonesia. Saya terkejut karena saya diterapkan tahun sebelumnya (2011) dan bukan untuk tahun 2012. Namun demikian, saya menyadari bahwa mungkin, ini adalah bagaimana hal-hal yang seharusnya.

Ketika seseorang telah bekerja selama tiga tahun setelah Universitas, biasanya dia cenderung lupa beberapa hal yang dia gunakan untuk menikmati melakukan waktu dia masih muda. Sebagai contoh, bersenang-senang.

Sebelumnya, perjalanan adalah salah satu hal yang saya telah berjanji pada diri sendiri untuk melakukan tapi seperti yang saya punya dikonsumsi oleh tanggung jawab kehidupan dewasa, saya lupa tentang hal itu. Karena itu, ketika KJRI menelpon saya tentang Darmasiswa, ada hanya satu hal di pikiran saya: saya akan menggunakan istirahat ini layak untuk menemukan diriku lagi, untuk menjadi lebih bahagia dan lebih terinspirasi.

Darmasiswa program itu seperti memukul dua burung dengan satu batu. Pertama, saya bisa mengunjungi negara mana sebagian banyak teman-teman online saya tinggal. Kedua, saya bisa belajar Bahasa Indonesia, bahasa yang sangat signifikan jika saya ingin mengejar gelar sarjana saya bekerja di luar negeri terutama di wilayah Asia Tenggara.

Ini bukan yang pertama kali saya tinggal di negara lain. Jadi, sebelum saya ke sini, saya sudah diberitahu diri dari pelajaran yang saya pelajari ketika saya tinggal di Myanmar: menghitung kebahagiaan dan tidak penderitaan; merayakan perbedaan dan harta karun kesamaan negara baru dengan negara asli saya.

Saya juga melakukan banyak penelitian. Saya bertanya teman yang lulus dari program dan mewawancarai teman orang Indonesia tentang apa yang harus dilakukan atau tidak melakukan di Indonesia. Mereka mengatakan hal yang sama: mengharapkan macet terburuk di dunia, mencoba makanan di warung, kunjungi tempat wisata Indonesia, dan lain lain.

Saya pikir itu adalah persiapan yang cukup baik tapi ternyata memang benar bahwa tidak ada yang mengalahkan benar-benar mengalami hal itu.

Ketika saya datang ke sini, saya sudah coba yang macet selama dua jam di jalan yang mungkin bisa dijalan kaki selama sekitar lima belas menit. Saya telah hangus lidah saya dan menangis untuk nasi gila yang "tidak terlalu pedas". Saya sudah perna mengalami menjadi "kenek" oleh berdiri dekat pintu kopaja karena kopaja itu sudah penuh. Semua ini mungkin menakutkan bagi orang lain tetapi bagi saya, itu membuat saya merasa sedikit lebih dekat dengan Indonesia---mengalami hal-hal biasa orang Indonesia lakukan.

Di beberapa bulan saya tinggal di sini, saya menyadari bahwa tidak ada banyak perbedaan antara Filipina dan Indonesia. Misalnya, Jalan Pengadegan itu mengingatkan saya Jalan Marfori, sebuah jalan di Davao. Mungkin hanya perbedaannya lebih banyak rumah-rumah di sini yang menggunakan genteng sebagai atap. Cuaca juga sangat mirip dan lebih mudah beradaptasi berjalan di jalan karena orang yang saya temui terlihat seperti orang-orang yang saya melihat kembali di Filipina.

Meskipun banyak kesamaan, juga ada perbedaan. Bahkan dalam agama. Mayoritas orang Indonesia yang orang Muslim. Dan meskipun saya beragama Islam juga, ada beberapa praktik yang berbeda di sini dan di negara saya. Saya juga sangat kewalahan dengan fakta bahwa saya dapat berdoa di mana saja di sini. Ada musollah di mall dan banyak Masjid di mana-mana.

Mungkin salah satu hal yang saya bersyukur agak dari adalah bahwa saya tiba di sini selama bulan Ramadhan. Karena itu, saya mampu merayakan Eid'l Fitri, cara Indonesia. Saya dapat melihat Jakarta tanpa macet biasa dan saya bisa melihat tradisi lebaran seperti makan ketupat, mengunjungi sanak keluarga, dan doa Eid'l Fitri.

Indonesia membuat saya ingat bahwa pepatah biasa dilupa orang-orang: "manusia mencari hatinya seluruh dunia dan pulang ke rumah untuk menemukannya".

Indonesia merupakan negara yang baru, tetapi itu juga sudah menjadi rumah saya. Ini mengingatkan saya pada hal yang kami memiliki di Filipina hanya di dalam bentuk lain. Kebaikan orang Indonesia mengingatkan saya dari keramahan Filipina. Panas matahari dan hujan kuat juga sesuatu yang kami memiliki di Filipina. Ketika saya berjalan di Jakarta, saya tahu bahwa ini adalah tanah yang baru tapi saya tidak merasa sebagai orang luar. Pengalaman itu seperti saya bermain di taman tetangga saja. Hal ini tidak persis dimana saya seharusnya tetapi saya dipersilakan sama.

Seperti yang saya sudah terbiasa makan makanan pedas, naik angkot, dan menggunakan "dong", "sih" atau "kok", saya merasa bahwa saya telah menemukan sepotong kecil rumah di sini. Meskipun saya masih memerlukan sedikit lebih banyak waktu untuk terbiasa dengan macet, sopir ojek jengkel memanggil 'mbak', banjir sesekali, dan fakta bahwa orang-orang di sini sering mendapatkan takut ketika saya mengajukan banyak pertanyaan, saya pikir saya masih bisa tinggal senang di sini.

Ketika saya pulang, saya akan membawa saya pelajaran. Bahwa setiap orang berbeda dan kita harus belajar untuk menerima kenyataan bahwa apa yang mungkin tepat untuk lain salah untuk yang lain. Karena itu, kita tidak harus berpikir secara kolektif orang dan sebaliknya membuka hati kita untuk masing-masing. Seperti ada orang Indonesia yang tidak menepati janji dan ada orang Indonesia yang sangat tertarik pada mereka, ada juga orang-orang Filipina seperti itu. Kepribadian itu tergantung orang. Itu terbaik untuk membuka pikiran seseorang dan tidak takut belajar.

Jika kita ingin menikmati sesuatu, kita harus membuka semua indra kita. Lihatlah pemandangan, mendengar musik, mencium udara, mencicipi makanan, merasakan kehangatan budaya. Tetapi bahkan dengan semua indra ini terbuka, jika pikiran ditutup, semuanya tak berguna.

Membuka pikiran dan saat itulah kita akan benar-benar mengalami keindahan dunia.

No comments: